Lebih Penting Ego atau Membangun Kepribadian?

Diposting oleh Unknown


Bila anda sebagai pihak ketiga, mungkin anda bisa dengan menyimpulkan bahwa membangun kepribadian lebih penting daripada dengan ego. Namun apakah demikian dengan diri anda ketika hasil kerja anda dikritik dengan tajam?


Biasanya dan pada umumnya bisa kita katakan bahwa, saat kita dicela oleh orang lain. Sebagian diri kita akan cuek dengan apa yang dia bilang, masa bodoh dia mau bilang apa atau bahkan melawan / menyerang balik dengan si pengkritik.

Jarang sekali kita akan merasa dirinya memang perlu dikritik, membangun dengan dasar kesalahan kita sebelumnya, bertanya dalam diri kita apa yang salah dengan pekerjaan saya atau sebaliknya.

Namun, saya pribadi “wajar” apabila kita membuat tembok pertahanan guna menahan setiap omelan bos atau berkilah baik dengan bahasa verbal / perkataan atau dalam hati saja, “bukan, itu bukan salah saya” …., “bukan saya aja yang salah kok”.

Lalu, pertanyaan lainnya. Apakah sehat mekanisme pertahanan  yang kita buat atas kesalahan tersebut? Apakah kita cenderung membuat tembok itu sedemikian tebal sehingga setiap kritikan anda balik serang ? Bagaimana pun diperlukan kemampuan  anda memangfaatkan kritik, kegagalan, kekurangan anda dengan baik guna meningkatkan kemampuan anda sendiri.

Saya sendiri menyakini bahwa pribadi manusia atau yang sering disebut dengan “ego” memang mudah terluka dan sangat rapuh. Sehingga sangat wajar apabila manusia berusaha melawan sehingga bagaimana pun ego tidak cedera.

Masalahnya adalah kibat cedera yang kita hadapi bisa membuat diri kita rendah diri, merasa bersalah , tidak stabil, minder, sakit hati  dan membuat perasaan tidak bahagia. Ujung – ujungnya membuat kesehatan menjadi terganggu juga.

Nah, ada juga sebagian yang mampu membalikkan sifat – sifat  yang buruk tadi menjadi pelecut dirinya . Inilah yang diperlukan sebuah mental yang benar – benar berkualitas tentunya.

  1. Menganalisa apakah proses bela diri yang kita lakukan sudah tepat atau hanya semu (menumpuk masalah).
  2. Jangan  menganggap diri anda merasa “korban” atas situasi yang terjadi
  3. Bersifat jujur terhadap kekurangan pada diri kita
  4. Jangan “menutup telinga” dari segala komentar – komentar disekeliling anda
  5. Mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. Daripada menanggung dendam dalam diri anda, jadikan dendam sebagai penambah motifasi anda
  6. Selalulah tersenyum dengan komentar – komentar yang ada. Sehingga akan mengurangi beban pikiran anda 

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

TRANSLATE

.

BERITA TERUPDATE